Apa itu Sampradaya?

Diperbarui: Feb 22

Belakangan istilah sampradaya seolah-olah menjadi kata yang memiliki konotasi negatif di sebagian pihak masyarakat, terutama setelah terjadi perdebatan mengenai teologi Hindu Bali vs Hare Krishna di sosial media. Kita perlu menegakkan kembali pengertian sampradaya sesuai makna aslinya sehingga tidak salah memahami apa yang dilakukan oleh saudara Hindu kita sendiri.


Sampradaya berasal dari kata sanskerta; "sam" yang berarti menghubungkan dan "pradhāna" yang bermakna sumber. Jadi secara definisi kata sampradaya mengandung arti suatu instruksi atau ajaran yang terhubung dengan sumbernya. Setiap ajaran pasti ada sumbernya, dan sumber ajaran ini menurunkan pengetahuan secara turun temurun melalui suatu metode dan disiplin tertentu, sehingga ajaran tersebut dapat diterima, dipraktekkan dan diinsyafi oleh para pengikutnya dengan baik melalui mekanisme yang terstruktur dan sistematis. Secara praktek, untuk mengembangkan suatu ajaran dibutuhkan wadah, kurikulum, sistem, guru dan murid, seperti halnya kita belajar ilmu kedokteran; kita mempelajarinya dari sebuah kampus, ada sistem, kurikulum, disiplin, murid dan guru sebagai narasumber yang memiliki kualifikasi pengetahuan serta jam terbang pengalaman tinggi mengenai ilmu kedokteran, sehingga akan menghasilkan dokter-dokter yang juga berkualifikasi tinggi. Demikian halnya untuk menghasilkan pribadi-pribadi berkesadaran tinggi dan mencapai keadaan masyarakat dunia yang damai, tentram dan bahagia dibutuhkan sebuah wadah seperti misalnya pesraman pada tradisi Veda dan pesantren di Islam dengan berbagai kurikulum dan sistemnya. Bahkan pengetahuan Veda sruti juga diturunkan melalui sistem garis perguruan (paramparā). Karena bahasan bagian-bagian Veda sangat luas maka tidak heran bahwa setiap bagian-bagian itu juga memiliki garis paramparā seperti Rsi Pulaha ditugaskan oleh Vyāsadeva menyusun Rig Veda, Rsi Jaimini menyusun sama veda, Rsi Vyaśampāyanana untuk menyusun Yajurveda dan Maharsi Sumantu menyusun Atharva Veda. Jadi masing-masing jenis pengetahuan itu telah diturunkan melalui garis paramparā.


Kita bisa melihat bahwa, bahkan untuk belajar ilmu duniawi saja kita membutuhkan kampus, kurikulum dan guru pengajar yang berkualifikasi, bagaimana dengan ketika kita belajar pengetahuan rohani, yang tidak bisa dilihat dan tidak mampu dialami melalui indria kasar, tentu sangat membutuhkan sosok guru, metode dan disiplin tertentu, sehingga pengetahuan yang kita terima benar-benar tidak terdistorsi secara sembarangan, dibimbing oleh seorang guru yang teruji telah mempraktekkan dan menginsyafi pengetahuan itu melalui metode dan disiplin yang dilaksanakan secara turun temurun dalam garis perguruan (kampusnya). Secara mudah kita bisa membayangkan bagaimana hasilnya jika seseorang belajar ilmu kedokteran atau seseorang belajar ilmu spiritual secara sendiri-sendiri, tanpa guru, tanpa sistem dan tanpa bimbingan seperti telah dijelaskan di atas, hasilnya cenderung akan berbahaya. Menurut Veda berguru kepada pikiran yang bodoh dan indria- indria yang tidak sempurna untuk memahami sesuatu yang transendental (rohani) akan membuat hasil yang juga tidak sempurna, hal itu membutuhkan energi dan waktu yang sangat panjang, karena belajar sendiri berdasarkan pikiran dan indria kita akan mengalami "trial and error" bahkan tidak akan selesai dalam satu dua kali kelahiran. Itu sebabnya Veda mengatakan "Veda paling takut dengan orang bodoh" karena di tangan orang bodoh pengetahuan yang paling muliapun akan disalah interpretasikan dan disalahgunakan.


Secara umum terdapat lima sampradaya besar yang di ikuti oleh pengikut Veda di dunia: Vaiṣṇava-Sampradāya, Śaivite-Sampradāya, Dashanami-Sampradāya, Advaita Vedānta-Sampradaya dan Śakta-Sampradāya. Masing-masing Sampradaya ini memiliki acharya atau para guru kerohanian yang menjadi sumber ajaranya. Di dalam Bhagavad-Gītā 4.2 rangkaian garis perguruan ini disebut sebagai garis 'paramparā'.


Hal ini telah disebutkan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad-Gītā 4.2 "Ilmu pengetahuan yang paling utama ini diterima dengan cara sedemikian rupa melalui rangkaian garis perguruan guru-guru kerohanian, dan para raja yang suci mengerti ilmu pengetahuan tersebut dengan cara seperti itu. Tetapi sesudah beberapa waktu, garis perguruan itu terputus (paramparā); karena itu, rupanya ilmu pengetahuan yang asli sudah hilang". Dalam sloka-sloka berikutnya Krishna juga menyebutkan alasan beliau menyabdakan kembali pengetahuan Bhagavad-Gītā ini kepada umat manusia melalui Arjuna yaitu karena garis paramparā sebelumnya telah putus maka keadaan rohani masyarakat semakin merosot dimana mereka berkecendrungan bersifat jahat, tidak percaya terhadap Tuhan YME dan kehilangan prinsip-prinsip utama dari Veda. Kalimat "menyabdakan kembali' bermakna bahwa prinsip dari pengetahuan rohani yang bersifat abadi dan universal ini selalu mengalir abadi dari zaman ke zaman, namun ketika suatu saat prinsp- prinsip dharma hilang dari masyarakat maka Sri Krishna sendiri melalui avatāraNya atau guru-guru suci akan bersabda kembali. Contoh guru-guru suci adalah Śaṅkarācārya, Madhvācārya, Nimbārkācārya dan yang lain-lain.


Śrīmad-Bhāgavatam menjelaskan bahwa zaman selalu berputar secara abadi; catur-yuga (Satya-yuga, Tretā-yuga, Dvāpara-yuga dan Kali-yuga) terus menerus bergantian berputar seperti roda pedati. Pengetahuan rohani tentang Tuhan, jiva dan dan berbagai aspekNya diturunkan ke bumi sesuai zaman dan keadaan kesadaran manusia saat itu, menyadari hal ini hendaknya kita sebagai manusia menundukkan hati dan terbuka menerima suatu konsep yang kiranya belum pernah kita dengar atau belum sempat kita pelajari dengan baik, sehingga kita dijauhkan dari sikap mental menghakimi secara reaktif terhadap hal-hal yang kita anggap berbeda.


Download selengkapnya dibawah tentang sampradaya.

Sampradaya Veda
.
Download • 310KB


© 2021 Suara ISKCON