Maling Berteriak Maling


Di sebuah desa sering terjadi sebuah kasus pencurian. Tidak seorang pun dapat menemukan siapa pencurinya meskipun segala upaya sudah dilakukan. Tiap kali penduduk desa menemukan peristiwa pencurian, seketika itu pula sang pencuri lenyap tanpa jejak. Yang tertinggal kemudian hanya kegaduhan dan tangisan sang korban pencurian dan kekecewaan warga desa. Karena sering terjadi maka sang kepala desa pun turun tangan dengan memanggil semua yang menjadi korban pencurian dan berbicara secara pribadi. Setelah melakukan dialog sambil melakukan penyelidikan yang mendalam, kepala desa mencurigai salah satu warga, dimana ia selalu muncul setiap kali pasca pencurian terjadi. Sang kepala desa lalu meminta beberapa petugas keamanan untuk mengatur siasat dan memata-matai rumah orang yang dicurigai itu saat tengah malam.


Pada suatu malam, petugas keamanan desa melihat sang tersangka keluar dari rumahnya pada pukul dua pagi dan membawa seperangkat peralatan yang nampak akan dipakai untuk membobol tembok rumah yang menjadi target pencurian. Secara diam-diam petugas keamanan lalu mengikuti sang pencuri. Mereka melihat sang pencuri sedang membobol dinding salah satu rumah warga desa dengan peralatan yang dibawanya. Beberapa saat kemudian, sang pemilik rumah menyadari ada seorang pencuri di rumahnya, dan berteriak,,, "Maling...... maling......!!!!" petugas keamanan melihat sang pencuri melarikan diri dan berlari masuk menuju hutan terdekat.


Seperti biasa, pasca pencurian warga serentak berkumpul dan dia (sang pencuri yang belum diketahui) pun muncul dari sisi hutan yang berlawanan dan ikut berkumpul dengan warga desa tanpa raut wajah bersalah. Saat semua orang bertanya-tanya siapa sesungguhnya pelaku pencurian tersebut, dia pun ikut-ikutan bertanya lalu berpura-pura ikut mencari pelakunya dengan berjalan berkeliling kesana kemari. Petugas keamanan tiba-tiba datang menyergap orang tersebut dan menangkapnya, sambil berteriak lantang, "ini dia pencurinya.. !! Ini dia pencurinya!!!" Warga desa terkejut dan salah sangka terhadap petugas keamanan sehingga mereka bersiap-siap memukulinya. Untungnya, sang kepala desa segera tiba di tempat tersebut, dan menenangkan warganya. Ia mengamankan petugas keamanan dari kerumunan warga desa. Akhirnya petugas keamanan mengajak sang kepala desa dan semua warga masuk kedalam hutan dan pada saat yang sama meminta beberapa warga mengamati gerak-gerik warga desa yang di ditangkap tadi.


Semuanya masuk menuju hutan melintasi jalan yang dilalui oleh sang pencuri tersebut. Sambil berjalan menuju hutan, beberapa warga berkali-kali melontarkan keluhan, "Apa gunanya membuang-buang waktu dengan pergi ke hutan untuk menemukan si pencuri itu? Ular hutan begitu berbahaya di saat gelap seperti ini, pasti si pencuri itu tidak ada disana!" Mereka mengoceh terus-menerus, namun para petugas keamanan dan sang kepala desa tidak menghiraukan ocehan-ocehan itu. Mereka tetap berjalan memasuki hutan lebih dalam lagi dan pada lokasi tertentu mereka akhirnya menemukan kotak perhiasan penuh berisi barang-barang curian di tengah hutan, bersamaan dengan berbagai peralatan yang digunakan saat mencuri. Raut wajah sang tersangka terlihat sangat tegang dan ketakutan. Diam-diam ia melambatkan langkahnya dan bersiap-siap untuk melarikan diri. Tersangka lalu bergegas berlari dan warga mengejarnya sambil berteriak, "Itu dia pencurinya... Itu dia pencurinya!!!". Kini sudah terbukti siapa sesunggunya sang pencuri. Sang pencuri terus melarikan diri, sembari ikut berteriak, "Itu dia pencurinya... Itu dia pencurinya!!!" sambil menunjuk ke arah orang-orang tidak bersalah yang sedang lewat; sang pencuri berhasil lolos dengan meninggalkan sebuah kebingungan bagi masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya prilaku pencuri itu.


Dunia ini tidak pernah bebas dari orang-orang jahat karena dunia material adalah tempat tinggal berbagai makhluk hidup dengan berbagai keinginan dan kepentingan yang berbeda-beda, sehingga sering menimbulkan konflik. Di dunia material hanya ada kesenangan yang selalu berubah, sehingga disebut kebahagiaan sementara, duḥkhālayam aśāśvatam (Śrīmad-Bhagavad-Gītā 8.15). Kita akan banyak menemukan orang yang gemar memfitnah atau menyebarkan hoax seperti yang dilakukan oleh pencuri dalam kisah di atas, dengan tujuan menutupi kesalahannya melalui menciptakan kebingungan dan keresahan di tengah masyarakat, seperti halnya maling berteriak maling. Tindakan mereka akan berhasil apabila kita membiarkan diri untuk mengonsumsi berita palsu itu. Hendaknya kita benar-benar waspada terhadap berbagai informasi yang masuk ke mata dan telinga agar hal-hal buruk tidak berkembang dan mengganggu kedamaian diri, keluarga dan masyarakat.


Para guru suci ketika mengajarkan dan membimbing dalam proses menginsyafi ajaran Hare Krishna, selalu memberikan contoh bagaimana hendaknya bertindak dengan penuh hati-hati, reflektif, dan tidak langsung menghakimi orang lain. Untuk bisa memiliki sikap yang tidak reaktif kita perlu mengisi dan melatih diri dengan pengetahuan-pengetahuan yang lebih mendalam. Mendengar adalah proses yang sangat penting, apa dan siapa yang kita dengar menentukan bagaimana cara berpikir dan kesadaran kita melihat sesuatu. Karena itu, hendaknya seorang mengembangkan sikap yang benar dalam memilih dan mendengar, yaitu mendengar hanya sesuatu yang bermanfaat untuk pengembangan kesadarannya, dan dari sumber yang dapat dipercaya.


Seringkali yang terjadi adalah seseorang mendengar apa yang ingin mereka dengar tanpa mempertimbangkan apakah itu baik atau buruk, benar atau salah, rugi atau untung bagi dirinya dan orang lain. Hal ini disebabkan seseorang tidak memiliki prinsip hidup yang kuat, sehingga mudah dipengaruhi dan diombang ambingkan, misalnya mudah ikut cemas, marah dan emosi ketika mendengar suatu berita tertentu walaupun informasi itu belum terbukti kebenarannya. Untuk menghindari keadaan seperti itu hendaknya kita cermat memilih informasi dan berlatih hanya mendengar dari sumber yang dapat dipercaya, yang memiliki kompetensi serta integritas tinggi terhadap suatu topik permasalahan.

31 tampilan

© 2021 Suara ISKCON