Orang Buta Dan Gajah


Tersebutlah ada seorang raja yang arif dan bijaksana. Sang raja sangat mencintai rakyatnya dan mereka pun sangat menghormati rajanya. Tidak ada satu pun rakyat yang dibiarkan dalam kesusahan. Diantara rakyatnya, ada sekelompok orang buta yang tinggal dengan damai. Suatu hari tiba-tiba saja mereka mendengar kabar bahwa ada seekor hewan aneh yang berbadan besar bernama gajah yang baru saja tiba di kerajaan sebagai binatang peliharaan sang raja. Hal ini membuat mereka penasaran dan ingin tahu bagaimana wujud seekor gajah. Orang-orang buta itu pun berjalan menuju kerajaan dengan bantuan tongkatnya masing-masing. Sesampainya di depan pintu gerbang istana, mereka tidak diizinkan masuk oleh penjaga gerbang. Dengan berderai air mata mereka memohon agar diizinkan menyentuh badan sang gajah. Karena iba, sang penjaga gerbang pun mengizinkan mereka masuk setelah mendapat izin dari sang raja dan sekaligus menghantarkan mereka ke tempat dimana gajah itu tinggal. Setelah bertemu binatang gajah, dengan rasa ingin tahu mereka mulai menyentuh bagian-bagian tubuh sang gajah, ada yang memegang belalainya, telinganya, kakinya, dan ada pula yang menyentuh ekornya. Orang buta yang memegang belalai menyimpulkan bahwa bentuk gajah adalah hewan yang berbentuk panjang seperti ular besar. Orang buta lain menggambarkan gajah adalah seekor hewan yang bentuknya seperti pilar besar karena dia sedang memegang kakinya. Sementara yang lainnya mengasumsikan bahwa sang gajah adalah binatang yang menyerupai piring besar karena dia memegang bagian telinga. Demikianlah, masing-masing orang buta tersebut menjelaskan, berdebat dan bertengkar satu sama lain tentang bagaimana bentuk gajah sesuai apa yang dia ketahui dalam keterbatasan indrianya, mereka tidak mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai bentuk asli seekor gajah.


Pesan moral dari cerita ini: manusia (roh) yang terikat memiliki empat kelemahan; pertama ia cenderung berbuat kesalahan, kedua ia selalu dipengaruhi ilusi menganggap dirinya badan dan segala hal yang berkaitan dengan badannya adalah miliknya, ketiga roh terikat punya kecenderungan untuk berbohong/menipu, keempat indria-indria roh terikat tidak sempurna. Empat kelemahan manusia ini disebutkan di dalam Īśopaniṣad. Roh yang terikat diibaratkan orang buta, ia dibutakan oleh paham "ahaṁ mameti" menganggap dirinya adalah badan, dengan keadaan buta seperti itu ditambah dengan indria-indrianya yang tidak sempurna maka seseorang sadar atau tidak sadar cenderung melakukan tindakan-tindakan buruk seperti menipu dan berbohong, ia sepenuhnya dalam pengaruh ilusi.


Dengan empat kelemahan itu, manusia kemudian berusaha melakukan segala upaya untuk menemukan kebahagiaan, baik secara material maupun rohani, ditambah kecenderungannya tidak suka mengikuti aturan dan peraturan sehingga ingin bertindak sendiri-sendiri, maka berbagai masalah dan konflik senantiasa muncul dalam melakukan usaha-usahanya. Ketika belajar pengetahuan rohani misalnya, umumnya seseorang kurang tertarik serius mencari pembimbing, apalagi harus mengikuti berbagai aturan. Seseorang merasa lebih bebas belajar sendiri memilih sesuai apa yang disukainya dan puas terhadap apa yang ditemukannya ditambah adanya rasa bangga dengan apa yang dicapainya, keadaan itu membuat proses belajarnya menjadi terhenti dan ia tidak akan menemukan kemajuan lebih jauh.


Seperti kisah sekelompok orang buta di atas, memegang satu bagian saja dari keseluruhan tubuh gajah yang besar maka hanya bagian itu sajalah yang dipahami. Itupun pemahamannya bersifat spekulasi karena keadaan indria matanya yang tidak sempurna. Demikian halnya sebagai insan terikat dan buta secara rohani, apabila kita dengan angkuh tidak mengakui bahwa diri kita penuh dengan serba keterbatasan dan memiliki empat kelemahan utama, maka kita cenderung tidak bisa mengembangkan sifat rendah hati. Kita merasa sudah mengetahui segalanya dan menolak untuk mendengarkan dari orang lain. Ditipu oleh ilusi, ego palsu sang diri yang terikat merasa paling hebat, tidak mau lagi belajar dan menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Dengan bekal pengetahuan yang sepotong, seseorang yang digelapkan oleh ego mulai mengkritik dan mendebat orang lain, ia lupa bahwa ia pun sesungguhnya tidak sempurna dan belum memiliki pengetahuan yang utuh. Seseorang yang telah terbuka kesadaran rohaninya adalah orang buta yang telah pulih dari kebutaannya dan orang tercerahkan seperti itu memiliki pengetahuan dan sudut pandang yang luas dan utuh, ia tidak akan pernah mencela dan menyakiti orang lain bahkan dalam pikirannya sekalipun.


Ketika buta, ketika kaki dan tangan terikat, kita membutuhkan orang lain yang telah bebas dari belenggu ilusi dan telah melampaui segala keterbatasan material untuk menolong dan membimbing mencari pengetahuan dan menemukan tujuan hidup kita. Hanya dibutuhkan satu kualifikasi agar diri kita bisa bebas dari kebutaan dan kebodohan yaitu sifat tunduk hati, mengakui bahwa diri kita penuh kekurangan, dan mau mendengarkan dari orang lain. Dengan kerendahan hati seorang guru pembimbing dan pengetahuan akan datang dengan sendirinya. Air tidak pernah mengalir ke tempat tinggi namun selalu mengalir menuju dataran rendah. Karunia Tuhan selalu mengalir kepada hati manusia yang tunduk dan terbuka untuk menerima berkatNYa. Bukankah setiap orang mengharapkan berkat dari Tuhan?.


Salam penuh cinta

suaraiskcon


Postingan Terakhir

Lihat Semua

© 2021 Suara ISKCON