"Segala Pujian kepada Nasi Goreng dan Ghee!"


Hiduplah seorang kaya raya yang memiliki harta berlimpah ruah, namun tidak seorangpun pelayan di rumahnya yang mampu bertahan dalam waktu lama. Orang kaya tersebut sering menerima banyak pelayan, namun hanya mampu bertahan bekerja hanya beberapa bulan saja. Dia menjadi sangat sedih atas hal ini dan berpikir, "Aduh, betapa malangnya nasibku. Aku hidup bergelimang harta, namun apalah daya, saya merasa kewalahan untuk mengelola semua harta ini. Bahkan, tidak ada yang bisa bertahan lama di rumahku, Oh Tuhan, apa yang harus saya lakukan?" Hampir tidak mungkin menyelesaikan semua urusan rumah tangga sendirian tanpa bantuan orang lain.


Suatu hari, ia bertemu dengan sahabat lamanya dan menceritakan permasalahan dirinya lalu memohon jalan keluar atas hal tersebut. Kawannya menjawab, "Tentu saja kawanku. Bila engkau mau mengikuti apa yang saya sarankan, maka terjamin pelayan-pelayannmu tidak akan meninggalkanmu, bahkan jika anda mengusirnya sekali pun." Selanjutnya sang kawan menyarankan orang kaya itu merekrut sembarang orang untuk bekerja di rumahnya. Kemudian, berikan mereka fasilitas dengan baik dan selalu berikan nasi goreng yang dimasak dengan minyak ghee karena itu adalah makanan favorit orang-orang disana. Pada saat itu, ghee menjadi makanan terfavorit. Namun sayangnya, karena harganya terlalu mahal, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menggunakannya. Sang kawan melanjutkan bahwa pelayanan seperti itu hendaknya dilakukan selama enam bulan dan selama itu sang orang kaya bisa memberikan segala jenis pekerjaan kepada para pelayan-pelayannya.


Orang kaya ini pun melakukan saran kawannya tersebut. Dia mendapatkan beberapa pelayan baru dan mulai melakukan aksinya. Dia memberikan segala fasilitas yang layak dan memastikan bahwa pelayan-pelayannya itu mendapatkan nasi goreng dan ghee minimal dua kali sehari, karena itu adalah makanan favorit masyarakat setempat. Setelah enam bulan, orang kaya tersebut secara bertahap mulai memberikan tugas-tugas yang agak berat kepada mereka. Mulailah mereka berkeluh kesah terhadap pekerjaannya dan mengadu kepada atasannya. "Aku akan pergi dari tempat ini, pekerjaan ini terlalu berat untukku," kata sang pelayan. Demikianlah cara mereka mengelak dari pekerjaan tambahan, selalu mengatakan akan pergi dari rumah itu. Lama -lama, orang kaya itu pun membalasnya, "Ya sudah, sana pergi! Pegilah kemana pun anda suka!" Mereka mulai pergi satu per satu mencari pekerjaan lain, namun tak kunjung mendapatkan nasi goreng dan ghee seenak itu di tempat lain selain di rumah orang kaya itu. Karena sangat mencintai nasi goreng yang dimasak dengan ghee tersebut, mereka kembali lagi akhirnya ke rumah orang kaya itu dan memohon maaf atas tindakan cerobohnya. Mereka mengaku terlalu berburuk sangka terhadapnya dan berkata bahwa tidak ada kehidupan yang lebih nyaman selain di tempat orang kaya itu. Beberapa tahun berlalu, tiba-tiba saja orang kaya itu bertemu dengan kawan lamanya yang dulu pernah memberikan saran ini terhadapnya. Dia mendekat menghampirinya dengan rasa riang gembira dan berkata, "Segala pujian kepada nasi goreng dan ghee!"


Cerita diatas memberikan pesan moral bahwa keinginan terhadap keuntungan material, penghargaan, pujian dan berbagai kenyamanan material adalah faktor-faktor menonjol yang mendasari motif seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Zaman sekarang relatif sulit menemukan pribadi yang tulus dan ikhlas melakukan pelayanan kepada Tuhan dan kepada seluruh mahluk hidup di dunia ini. Orang yang tabah hati dalam berbagai keadaan di jalan kebenaran merupakan permata langka dalam kehidupan modern saat ini. Didorong oleh keinginan memenuhi keinginan pribadi terhadap terhadap lāba (keuntungan berlebihan), pūjā (pujian berlebihan) dan pratiṣṭhā (popularitas) tanpa landasan pengetahuan yang benar, kadang-kadang orang berpura-pura datang ke dalam sebuah komunitas spiritual, berpura-pura melakukan pelayanan disana, beberapa waktu setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, seperti reputasi, posisi, kekayaan, pekerjaan yang mapan, keuntungan yang berlimpah, dan lain sejenisnya, mereka akan kembali lagi kepada motifnya yang asli.


Untuk menarik perhatian orang-orang seperti itu, berbagai cara telah diupayakan oleh orang-orang suci. Mereka begitu murah hati dan berbelas kasih kepada jiwa-jiwa yang demikian terlena dengan benda-benda yang bersifat sementara. Seperti halnya kawan lama sang hartawan menyarankan untuk memberikan nasi goreng dan ghee kepada pelayan-pelayan barunya, begitu pula seorang suci kadang menyediakan berbagai posisi dan reputasi bagi mereka. Pada awalnya banyak orang akan menjauh dari pergaulan yang baik namun, segera setelah diberi penghargaan, posisi, kehormatan, dan lain sejenisnya, mereka datang dan berkenan memberikan penghormatan kepada pembimbing spiritualnya. Mereka mulai merasa nyaman dan betah dengan berbagai fasilitas yang ada, bahkan ingin menambahnya lagi walau hal itu tidak pernah benar-benar memuaskannya. Merasa telah terpenuhi apa yang menjadi kebutuhan materialnya kadang mereka secara palsu menyapa seseorang yang dianggap senior atau pembimbing spiritualnya dengan memberikan salam pujian "segala pujian kepada anda yang mulia...." ini serupa dengan pujian para pelayan kepada sang hartawan yang telah memberikan berbagai fasilitas dan makanan mewah mereka "segala pujian kepada nasi goreng dan ghee..." . Tentu saja pujian ini lebih didasarkan karena ada keuntungan material yang mereka dapatkan bukan karena tulus dari hati yang paling dalam. Seiring waktu sambil membiarkan mereka menikmati fasilitas yang memuaskan pribadinya, sang guru suci tanpa lelah memberikan bimbingan dan pengetahuan untuk menyucikan hati orang-orang tersebut. Jika seseorang memiliki sedikit ketundukan hati untuk tetap mau mendengar nasehat dan pengetahuan dari sang guru pembimbing maka ia akan mendapatkan kemajuan dalam kesadarannya, selanjutnya kemujuran secara bertahap akan datang berlimpah ke dalam hidupnya.


Pada akhirnya, seperti kisah pelayan yang pergi dan kembali lagi kepada majikannya karena di tempat lain tidak bisa menemukan fasilitas yang senyaman di tempat semula, demikian pula ketika seseorang hatinya telah disucikan dan merasakan manisnya nektar rohani, bahkan dihina, dicaci dan dipaksa untuk melepaskan jalan rohani yang sudah ia jalani ia tidak akan mau melepasnya karena ia telah merasakan langsung rasa dan kebahagiaan yang lebih tinggi dari sekedar rasa-rasa material yang bersifat sementara.



Salam penuh kasih

suaraiskcon

10 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua

© 2021 Suara ISKCON